Kura-kura dari Howard Spring National Park, Northern Territory, Australia
Setiap wilayah pasti memiliki kekhasan masing-masing. Salah satu tempat yang sempat saya kunjungi adalah Howard Spring National Park. Taman nasional tersebut terletak di kawasan Northern Territory, Australia. Wilayahnya tidak begitu luas namun memiliki keanekaragaman jenis flora dan fauna yang khas. Kawasan tersebut memiliki sebuah laguna dan sungai kecil yang mengalir di dalamnya. Beberapa fauna yang dapat ditemui adalah ikan kakap (barramundi), reptil (kura-kura, kadal dan ular), burung, mammal (wallaby) dan Crustacea (lobster air tawar).
Pada kesempatan tersebut saya berhasil bertemu dan berinteraksi dengan dua jenis kura-kura yang menghuni kawasan tersebut. Pertama kali memasuki kawasan taman nasional saya disambut oleh Emydura tanybaraga (‘yellow-faced turtle’) yang berenang bebas di laguna. Setidaknya sepuluh ekor E. tanybaraga dari berbagai ukuran dapat dijumpai dengan mudah berenang di sekitar jembatan yang berada di atas laguna. Laguna tersebut merupakan habitat alami dari kura-kura yang secara sekilas hampir mirip dengan kuya batok (C. amboinensis) yang ada di Indonesia. Daerah sekitar laguna diketahui merupakan habitat bersarang dari kura-kura ini. Selain kura-kura E. tanybaraga, daerah laguna juga dihuni oleh beberapa jenis ikan berukuran cukup besar diantaranya barramundi (Lates calcarifer).
Kura-kura kedua yang berhasil saya jumpai adalah Chelodina rugosa yang merupakan kura-kura berleher panjang (Subordo Pleurodyra). Saat dijumpai, kura-kura tersebut sedang berusaha menuju kawasan rawa dengan menyeberangi jalan di kawasan taman nasional. Melihat usaha dari kura-kura tersebut akhirnya saya memutuskan untuk membantu memindahkannya dari tengah jalan. Jenis ini juga merupakan reptil khas khususnya dari Ordo Testudinata yang menghuni wilayah Northern Territory. Sebenarnya masih ada satu jenis lagi yang umum dijumpai di daerah Northern Territory yaitu Elseya dentata, namun kemungkinan taman nasional ini bukan merupakan habitat alaminya atau memang belum beruntung untuk menemukannya.
Selain dua jenis tersebut, kawasan taman nasional juga diketahui sebagai habitat beberapa jenis ular dari benua Australia namun pada saat itu tidak berhasil saya jumpai satu ekorpun. Perjalanan di taman nasional berakhir pada sore hari dengan memberikan kesan yang sangat dalam tentang penerapan konservasi hewan liar di wilayah ini.
(Artikel diterbitkan di WARTA HERPETOFAUNA/VOLUME III, NO. 3 Mei 2010)
Filed under Australia, Herpetofauna diversity, Northern Territory : Comments (0) : Aug 15th, 2010
KEANEKARAGAMAN JENIS REPTIL DI CAGAR ALAM MANGGIS, KABUPATEN KEDIRI, JAWA TIMUR
Reptil di Indonesia memiliki daftar jenis yang cukup besar di dunia, akan tetapi perlu dipertimbangan bahwa penelitian amfibi dan reptil di Indonesia jauh lebih lambat di bandingkan dengan kemajuan di negara tetangga. Keberadaan hutan yang semakin memprihatinkan di Indonesia menyebabkan habitat reptil semakin menyempit. Penetapan kawasan konservasi merupakan salah satu upaya yang diharapkan dapat mempertahankan atau pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Read the rest of this entry »
Tags: keanekaragaman, Kediri, reptil
Filed under Herpetofauna diversity, Kediri :
Comments (3) :
Aug 27th, 2009
KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DI WILAYAH UNIVERSITAS GADJAH MADA (UGM) DIY
Universitas Gadjah Mada (UGM) terletak di bagian tengah Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). UGM memiliki daerah dengan vegetasi yang beragam, dekat dengan persawahan, dan aliran Selokan Mataram. Hal ini memberi gambaran akan potensi sebagai habitat Herpetofauna. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari keanekaragaman Herpetofauna di wilayah UGM sehingga diharapkan mampu memberikan bukti tentang potensi UGM sebagai habitat herpetofauna. Read the rest of this entry »
Tags: amfibi, herpetofauna, reptil, UGM
Filed under Herpetofauna diversity, Yogyakarta :
Comments (0) :
Aug 25th, 2009
KEANEKARAGAMAN HERPETOFAUNA DI BUKIT PLAWANGAN, KAWASAN WISATA KALIURANG, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Penelitian mengenai keanekaragaman herpetofauna dilakukan dari bulan Maret 2006 – April 2008 di Bukit Plawangan, Kawasan Wisata Kaliurang, Lereng Selatan Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengambilan sampel di wilayah ini meliputi Telaga Putri (832 mdpl), Telaga Muncar (839 mdpl), Telaga Nirmala (889 mdpl), dan Bukit Plawangan (993 – 1310 mdpl). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman jenis herpetofauna di Bukit Plawangan, Kawasan Wisata Kaliurang, Daerah Istimewa Yogyakarta antara tahun 2006 – 2008. Read the rest of this entry »
Tags: amfibi, DIY, herpetofauna, plawangan, reptil
Filed under Herpetofauna diversity, Yogyakarta :
Comments (1) :
Aug 25th, 2009
FROGS AND TOADS OF DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA, INDONESIA
INTRODUCTION
In 1923, P.N. van Kampen published The Amphibia of the Indo-Australian Archipelago, which for many years was treated as the definitive review of the amphibians, in particular those of Java. Between 1923 and 1998 almost no studies were carried out on the amphibians of Java. The first biologist since van Kampen to study seriously the relations of Javan amphibians to those of adjacent territory was D.T. Iskandar (Inger in Iskandar, 1998). Nowadays, several researcher have continuously conduct partial surveys on Amphibia of Java regions. As a part of Java regions, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) province cover from southern part of Mount Merapi (Montane and hilly zones) to the Southern Sea (Coastal zones). It was divided into five regency viz. Yogyakarta, Bantul, Gunungkidul, Kulonprogo and Sleman which have specific topography for each region. They provide suitable habitat for amphibians species to survive but there were no records found about amphibians of DIY. The most recent tabulation of the frogs of Java lists about 41 species (Iskandar, 1998). This number is smaller than adjacent main island such as Sumatera (90 species), Borneo (148 species) and Peninsular Malaya (101 species). We present the recent result of amphibians survey of Daerah Istimewa Yogyakarta province as contribution to our understanding of the amphibians species of Java. Read the rest of this entry »
Tags: amphibian, DIY, frog, toad
Filed under Herpetofauna diversity, Yogyakarta :
Comments (3) :
Aug 25th, 2009
KEANEKARAGAMAN BERUDU ANGGOTA ORDO ANURA DI LERENG SELATAN GUNUNG MERAPI, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Penelitian mengenai keanekaragaman berudu anggota Ordo Anura dilakukan dari bulan Maret 2006 – Maret 2007 di Lereng Selatan Gunung Merapi, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pengambilan sampel di wilayah ini meliputi Telaga Putri (832 m dpl), Telaga Muncar (839 m dpl), Kali Kuning (926 m dpl), Kali Bebeng (1026 m dpl), dan Bukit Plawangan (1100 dan 1310 m dpl). Read the rest of this entry »
Tags: berudu, DIY, formula geligi, morfologi
Filed under Herpetofauna diversity, Yogyakarta :
Comments (0) :
Aug 25th, 2009
Petungkriyono: Sepenggal Habitat Herpetofauna di Dataran Tinggi Dieng
Tim peneliti herpetofauna dari Fakultas Biologi UGM yang terdiri atas staf Laboratorium Taksonomi Hewan, Matalabiogama dan Kelompok Studi Herpetologi pada Bulan Mei – Agustus 2009 berkesempatan untuk melakukan inventarisasi herpetofauna di Dataran Tinggi Dieng. Penelitian ini dapat terlaksana berkat dukungan dari TP3F Fakultas Biologi UGM. Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh kekhawatiran berkurangnya habitat alami herpetofauna yang berangsur tergantikan oleh lahan perkebunan yang terus bertambah.
Tags: amfibi, dieng, herpetofauna, reptil
Filed under Dieng Plateu, Herpetofauna diversity :
Comments (0) :
Aug 25th, 2009